Sekilas memang demikianlah keadaan sekitar kita: orang lebih kagum kepada seorang siswa/mahasiswa yang mengambil jurusan IPA dibandingkan IPS. Apa pasal? Mayoritas menjawab bahwa pelajaran IPA lebih berbobot, lebih sulit, karena itu orang yang mengambil/mendapat jurusan IPA pasti orang yang pinter. Betulkah pendapat ini?
Jawaban saya: tidak selalu demikian.
Kenyataan saat ini memang tidak bisa dipungkiri: anak SMA maupun orang tuanya kebanyakan pingin masuk jurusan IPA. Mungkin hal ini terkait dengan citra/image anak IPA yang rajin, serius, disiplin, dan seabreg citra baik lainnya, yang ketika dilihat pada (sebagian) siswa jurusan IPS hal ini tidak nampak. Kebanyakan anak IPS sukanya ngantuk di kelas, suka bolos, ga bisa ngitung, kucel, dan segudang atribut negatif lainnya. Padahal tidak semua anak IPA itu baik, dan tidak semua anak IPS itu "katrok". Semua berpulang ke pribadi masing-masing.
Sebenarnya, program studi IPS bertujuan mendidik siswa agar lebih memahami kehidupan sosial, hubungan antarmanusia, bagaimana agar kehidupan bermasyarakat terlaksana dengan baik. Hal ini tentu sangat mulia, karena terkait dengan takdir manusia sebagai "HOMO-SOCIUS"
Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa ada kesan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah menuju pada kematian. Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam “mencetak” tenaga-tenaga teknis terdidik)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar